This is default featured post 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured post 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Tampilkan postingan dengan label Cerita lucu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita lucu. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Mei 2013

Abu Nawas Raja Disuruh Mencium Pantat Ayam

Raja Disuruh Mencium Pantat Ayam

Sebulan lebih blog kisah abu nawas tidak menemani pembaca. Tapi jangan khawatir, awal bulan, waktunya update lagi kisah-kisah abunawas yang lucu bisa menghibur hati pembaca semua.

Seperti kita ketahui bersama bahwa Abu Nawas ini cerdik sekali sehingga meskipun dijahili orang, sekalipun itu raja, masih saja bisa membela diri dengan kata-katanya. Seperti Raja Harun yang mencoba menjebak Abu Nawas dengan ayam panggang yang lezat, Abu Nawas kembali sukses menghindar dan akhirnya malah sang raja yang merasa malu di depan para tamu undangan.

Kisahnya

Pada suatu hari Raja Harun Ar-Rasyid sedang galau dengan sikap Abu Nawas. Beberapa kali Abu Nawas telah membuatnya malu di depan para pejabat kerajaan. Berlatar belakang dendam inilah akhirnya Raja hendak membuat jebakan terhadap Abu Nawas. Jika Abu Nawas gagal menghadapi jebakan tersebut, maka hukuman akan diberikan kepadanya.

Maka dipanggillah Abu Nawas untuk menghadap Raja Harun Ar-Rasyid. Setelah melewati beberapa prosedur, sampai juga Abu Nawas di istana kerajaan. Sang raja lalu memulai pertanyaannya,
"Wahai Abu Nawas, di depan mejaku itu ada sepanggang daging ayam yang lezat dan enak dilahap, tolong segera ambilkan."

Abu Nawas tampak bingung dengan perintah tersebut, karena tak biasanya dia disuruh mengambilkan makanan raja.
"Mungkin raja ingin menjebakku, aku harus waspada," kata Abu Nawas dalam hati.

Mendapat Petunjuk yang Aneh

Abu Nawas pun akhirnya menuruti perintah itu. Setelah mengambil ayam panggang sang raja, Abu Nawas kemudian memberikannya kepada raja. Namun, sang raja belum langsung menerimanya, ia bertanya lagi,
"Abu Nawas, di tangan kamu ada sepotong ayam panggang lezat, silahkan dinikmati."

Begitu Abu Nawas hendak menyantap ayam panggang tersebut, tiba-tiba raja berkata lagi,
"Tapi ingat Abu Nawas, dengarkan dulu petunjuknya. Jika kamu memotong paha ayam itu, maka aku akan memotong pahamu dan jika kamu memotong dada ayam itu, maka aku akan memotong dadamu. Tidak hanya itu saja, jika kamu memotong dan memakan kepala ayam itu, maka aku akan memotong kepalamu. Akan tetapi kalau kamu hanya mendiamkan saja ayam panggang itu, akibatnya kamu akan aku gantung."

Abu Nawas merasa bingung dengan petunjuk yang dititahkan rajanya itu. Dalam kebingungannya, ia semakin yakin jika hal itu hanya akal-akalan Raja Harun saja demi untuk menghukumnya. Tidak hanya ABu Nawas saja yang tegang, tapi juga semua pejabat kerajaan yang hadir di istana tampak tegang pula. Mereka hanya bisa menebak dalam hati tentang maksud dari perintah rajanya itu.

Hampir sepuluh menit lamanya Abu Nawas hanya membolak-balikkan ayam panggang itu. Sejenak suasana menjadi hening. Kemudian Abu Nawas mulai mendekatkan ayam panggang itu tepat di indera penciumannya.

Para hadirin yang datang atas undangan raja mulai bingung dan tidak mengerti apa yang dilakukan Abu Nawas. Kemudian terlihat Abu Nawas mendekatkan indera penciumannya tepat di bagian pantat daging ayam bakar yang kelihatan sangat lezat itu. Beberapa menit kemudian ia mencium bagian panta ayam bakar itu.

Raja Merasa Malu

Setelah selesai mencium pantat ayam bakar itu, kemudian Abu Nawas berkata,
"Jika saya harus memotong paha ayam ini, maka Baginda akan memotong pahaku, jika saya harus memotong dada ayam ini, maka Baginda akan memotong dadaku, jika saya harus memakan dan memotong kepala ayam ini, Baginda akan memotong kepalaku, tetapi coba lihat, yang saya lakukan adalah mencium pantat ayam ini," kata Abu Nawas.

"Apa maksudmu, wahai Abu Nawas," tanya Baginda.
"Maksud saya adlah kalau saya melakukan demikian maka Baginda juga akan membalasnya demikian, layaknya ayam ini. Nah, saya hanya mencium pantat ayam panggang ini saja, maka Baginda juga harus mencium pantat ayam panggang ini pula," jelas Abu Nawas.

Sontak saja penjelasan Abu Nawas itu membuat suasana yang tegang menjadi tampak tak menentu. Para pejabat yang hadir menahan tawa, tetapi ragu-ragu karena takut dihukum raja. Sementara itu, raja yang mendengar ucapan Abu Nawas mulai memerah mukanya. Raja tampak malu untuk kesekian kalinya. Untuk menutupi rasa malunya itu, beliau memerintahkan Abu Nawas untuk pulang dan membawa pergi ayam panggang yang lezat itu.

"Wahai Abu Nawas, cepat pulanglah, jangan sampai aku berubah pikiran," kata raja.

Setibanya di rumah, ia mengundang beberapa tetangganya untuk berpesta ayam panggang. Untuk kesekian kalinya Abu Nawas sukses mempermalukan Raja Harun Ar-Rasyid di depan para pejabat kerajaan.

Sekian dulu sahabat, Kisah Abu Nawas yang akan datang akan hadir di bulan Mei 2013 awal bulan. Kalau sudah membaca kisah ini, ada kisah-kisah lain yang lebih lucu dan lebih menarik di label Abu Nawas. Sampai ketemu bulan depan ya...

Abu Nawas Membalas Tipuan Raja

Membalas Tipuan Raja

Selamat datang kembali di Kisah Abu Nawas yang cerdik malam ini.
Sudah menjadi takdir kali ya si Abu Nawas ini cerdik dan pandai, bahkan sekalipun menipu kok malah diberi hadiah oleh rajanya.
Seperti kisah abunawas lucu dan kocak berikut ini.

Abu Nawas melakukan protes karena hadiah yang akan dijanjikan oelh rajanya tidak kunjung diberikan. Akhirnya Abu Nawas membuat siasat agar dia diberi hadiah sebagaimana mestinya.



Kisahnya.

Pada suatu malam yang sangat dingin, Abu Nawas diundang oleh Raja Harun Ar-Rasyid untuk menemaninya mengobrol. Nah pada saat obrolan mereka tentang rasa dingin, tiba-tiba sanga raja bertanya kepada Abu Nawas,
"Wahai Abu Nawas, maukah engkau telanjang bulat di atas atap malam ini?"
"Tergantung imbalannya saja, Paduka," jawab Abu Nawas.
"Baiklah, engkau akan aku beri 500 dirham bila mau melaksanakannya," jelas raja.

Dengan imbalan sebesar itu, Abu Nawas segera saja mencopoti bajunya satu persatu mulai dari pakaian atas hingga pakaian bawah. Setelah seluruh bagian bajunya dilepas, selanjutnya Abu Nawas naik emnuju atas atap dan duduk-duduk di sana.

Rasa dingin sangat menusuk kulit Abu Nawas semalaman, dan baru menjelang subuh Abu Nawas turun ke bawah.

"Wahai Paduka, mana uang yang Paduka janjikan kepadaku?" tanya Abu Nawas.

"Sabar dulu wahai Abu Nawas. Begini ya semalaman apa yang telah engkau lihat?" tanya raja.
"Hamba tidak melihat apa-apa Tuanku. Hanya seberkas cahaya yang nampak dari kejauhan saja," jawab Abu Nawas.
"Kalau begitu, engkau tidak berhak mendapatkan imbalan karena engkau telah dihangati oleh cahaya itu," ujar raja.
"Loh, bagaimana bisa begitu Paduka, hamba semalam hampir mati kedinginan kok," protes Abu Nawas.

Abu Nawas Protes.

Akan tetapi sang raja tidak mau mendengar protes dari Abu Nawas, bahkan sang raja menyuruh Abu Nawas untuk segera pulang ke rumahnya. Dengan perasaan yang masih kedinginan disertai rasa sedih, akhirnya Abu Nawas meninggalkan istana menuju rumahnya.

Dalam perjalanan, Abu Nawas berkata dalam hati,

"Bagaimana mungkin Baginda ini ingkar janji. Baiklah, aku harus mendapatkan hakku yang tadi."

Setelah selang beberapa hari, Abu Nawas menghadap Raja Harun Ar-Rasyid.

Abu Nawas mengundang rajanya untuk jamuan makan-makan di rumahnya. Raja Harun pun menerima undangan tersebut.
Pagi-pagi sekali Abu Nawas sudah muncul di istana dengan tujuan menjemput rajanya bersama dengan rombongan kerajaan.

Di tengah perjalanan, Abu Nawas minta izin kepada rajanya untuk mendahului mereka dengan alasan ada hal yang harus dikerjakan, terutama meyiapkan hal penyambutan meriah kepada rajanya,


Tidak beberapa lama kemudian, Abu Nawas sudah berada di tempat pesta.

"Ayo, cepatlah dirikan kemah," teriak Abu Nawas kepada murid-muridnya.
Abu Nawas rupanya menyuruh murid-muridnya agar keadaan menjadi siap dalam penyambutan nanti. Ada pula yang menyalakan api di bawah poho besar. Kemudian ada periuk-periuk yang telah diisi dengan daging dan digantungkan di dahan-dahan pohon itu.

Raja Harun Ar-Rasyid dan rombongan datang.

Setelah sejenak mengobrol, Abu Nawas mulai bercerita macam-macam agar rajanya emnjadi senang. Karena keasyikan mengobrol itu, Raja Harun terlihat memegangi perut pertanda rasa lapar sudah menjaar di tubuhnya.

"Wahai Abu Nawas, mana makanannya?" tanya Raja.

"Sabar Baginda, apinya lamban sekali panasnya, padahal sejak dari tadi pagi dinyalakan," jawab Abu Nawas.
"Api jenis apa itu kok lamban sekali panasnya. Coba antar aku ke dapur," ujar Raja.

Setelah tiba di dapur, sang Raja merasa sangat heran karena ada api namun tidak ada makanan yang sedang di masak.

"mana makanannya?" tanya Raja.
"Itu baginda, ada di atas dahan pohon," jawab Abu Nawas sambil menunjuk pohon.
"Pantas saja, bagaimana mungkin bisa matang kalau yang dimasak di atas sana sedangkan apinya ada dibawah, terlalu jauh jaraknya," ujar Raja keheranan.
"Sama saja Baginda dengan kasusku beberapa hari yang lalu, bagaimana tubuhku ini dihangatkan oleh cahaya yang berada di kejauhan," Ucap Abu nawas menjelaskan.

Sang Raja Harun Ar-Rasyid langsung saj tertawa mendengar perkataan Abu Nawas tersebut. Ia kemudian memerintahkan salah seorang pengawalnya untuk memberikan hadiah berlipat 2 kali dari yang pernah ia janjikan kepada Abu Nawas.

Selamat ya Abu Nawas, 1000 dirham lalu buat apa tuh.

Abu Nawas Kaya Tanpa Bekerja

Kaya Tanpa Bekerja 

 

Setiap orang pasti butuh uang.
Kisah Abu Nawas kali ini menceritakan tentang petualangan Abu Nawas yang kaya tanpa bekerja.

Sekilas Rumah Tangga Abu Nawas.

Kehidupan Abu Nawas memang tak seberuntung kawan-kawannya yang lain ataupun para saudagar yang pernah ditemuinya.

Abu Nawas hidup dalam rumah yang sangat sederhana dan tidak memiliki harta benda yang melimpah ruah.

Walau pun begitu Abu Nawas selalu ikhlas dan mampu melewati setiap rintangan yang dijumpai dalam kehidupannya.

Abu Nawas tinggal serumah bersama dengan seorang istri.

Abu Nawas dapat pula meyakinkan istrinya bahwa akan selalu ada jalan bagi mereka yang ikhlas menjalani rintangan yang diberikan Allah SWT.

BERDOA.

Suatu hari istri Abu Nawas mengeluh atas kehidupan yang dijalaninya.
Dirinya mengaku tak kuasa lagi dengan beban hidup yang ditanggungnya.

Istri Abu Nawas mengeluh karena suaminya tak memiliki penghasilan sehingga tak mampu memberinya nafkah.


"Suamiku, kapan kau berikan sebuah gaun indah.

Hidupmu hanya kau habiskan untuk berdoa saja," ucap istri Abu Nawas.
"Tapi semuanya kulakukan dengan ikhlas hanya untuk mendapatkan ridha Allah SWT," jawab Abu Nawas.
"Kalau begitu, mintalah upah kepada Allah SWT," sahut istri Abu Nawas.

Seketika itu juga, Abu Nawas langsung pergi ke pekarangan rumahnya.

Dengan berbekal alat peribadatan yang lengkap, Abu Nawas mulai bersujud untuk menyampaikan permohonan-permohonannya kepada Allah SWT.

"Ya Allah, berilah hamba upah seratus keping perak!" ujar Abu Nawas dengan suara lantang dan dilakukannya berulang-ulang.


Rupanya suara Abu Nawas terdengar oleh salah seorang tetangganya yang sedang beristirahat di depan rumah.

Tak lama kemudian, tetangga Abu Nawas memiliki keinginan untuk berbuat usil dengan melemparkan seratus keping perak ke kepala Abu Nawas.

"Ya Allah, berilah hamba upah seratus keping perak!" teriak Abu Nawas untuk kesekian kalinya dan diikuti sebuah koin seratus perak jatuh tepat di atas kepalanya.

Abu Nawas yang terkejut, langsung lari ke dalam rumah sambil membawa uang yang baru saja di dapatkan kepada istrinya.

"Istriku, aku memang wali Allah dan aku baru saja mendapatkan upah dari Allah SWT," tutur Abu Nawas.

Tapi tetangga Abu Nawas tadi tidak terima kalau uang yang dilemparkannya tadi menjadi milik Abu Nawas.

Oleh karena itu, pintu rumah Abu Nawas langsung digedor oleh tetangganya tadi.

"Hai Abu Nawas, kembalikan uang yang baru saja aku lemparkan tadi.
Itu milikku!" ucap tetangga itu.

MENANG DALAM SIDANG.

"Bagaimana mungkin uang itu milikmu.
Aku memohon kepada Allah dan uang yang jatuh itu pasti jawaban dari Allah," jawab Abu Nawas.

Tetangga yang usil tadi tidak terima dan mengajak Abu Nawas agar diselesaikan dipengadilan.

Tak lama kemudian mereka sudah di pengadilan dan menjalani sidang.

"Apa pembelaanmu wahai Abu Nawas?" tanya Hakim.

"Tetangga saya ini gila Tuan Hakim.
Ia pikir semua yang ada di dunia ini adalah miliknya.
Coba saja tanyakan misalnya jubah saya, kuda saya, tentu semua diakui sebagai miliknya," jawab Abu Nawas.

"Tapi itu semua memang milikku!" teriak tetangganya yang kaget akan pernyataan Abu Nawas tersebut.


Bagi sang hakim, bukti-bukti yang diterimanya sudah cukup untuk memutuskan siapa yang benar dan siapa yang salah.

Hakim memutuskan bahwa Abu Nawas menang dan uang yang jatuh di kepalanya menjadi miliknya.
Ha ha ha...

Itulah kisah si Abu Nawas.

Lucu juga.
Hikmah yang bisa diambil:
-Selalu berdoa dengan ikhlas.
-Kerjalah kalau ingin mendapat uang.
-Jangan usil ke tetangga.
-Harta di dunia hanya titipan jangan lupa sedekah.

Salam

Abu Nawas Tetap Bisa Cari Solusi

Tetap Bisa Cari Solusi



Mimpi buruk yang dialami Baginda Raja Harun Al Rasyid tadi malam
menyebabkan Abu Nawas diusir dari negeri Baghdad. Abu Nawas tidak berdaya.
Bagaimana pun ia harus segera menyingkir meninggalkan negeri Baghdad hanya
karena mimpi. Masih jelas terngiang-ngiang kata-kata Baginda Raja di telinga
Abu Nawas.
"Tadi malam aku bermimpi bertemu dengan seorang laki-laki tua. la
mengenakan jubah putih. la berkata bahwa negerinya akan ditimpa bencana
bila orang yang bernama Abu Nawas masih tetap tinggal di negeri ini. la harus
diusir dari negeri ini sebab orang itu membawa kesialan. ia boleh kembali ke
negerinya dengan sarat tidak boleh dengan berjalan kaki, berlari, merangkak,
melompat-lompat dan menunggang keledai atau binatang tunggangan yang
lain."
Dengan bekal yang diperkirakan cukup Abu Nawas mulai meninggalkan rumah
dan istrinya. Istri Abu Nawas hanya bisa mengiringi kepergian suaminya dengan
deraian air mata.
Sudah dua hari penuh Abu Nawas mengendarai keledainya. Bekal yang
dibawanya mulai menipis. Abu Nawas tidak terlalu meresapi pengusiran dirinya
dengan kesedihan yang terlalu mendalam. Sebaliknya Abu Nawas merasa
bertambah yakin bahwa Tuhan Yang Maha Perkasa akan segera menotong
keluar dari kesulitan yang sedang melilit pikirannya. Bukankah tiada seorang
teman pun yang lebih baik daripada Allah SWT dalam saat-saat seperti itu?
Setelah beberapa hari Abu Nawas berada di negeri orang, ia mulai diserang rasa
rindu yang menyayat-nyayat hatinya yang paling dalam. Rasa rindu itu makin
lama makin menderu-deru seperti dinginnya jamharir. Sulit untuk dibendung.
Memang, tak ada jalan keluar yang lebih baik daripada berpikir. Tetapi dengan
akal apakah ia harus melepaskan diri? Begitu tanya Abu Nawas dalam hati.
Apakah aku akan meminta bantuan orang lain dengan cara menggendongku dari
negeri ini sampai ke istana Baginda? Tidak! Tidak akan ada seorang pun yang
sanggup melakukannya. Aku harus bisa menolong diriku sendiri tanpa
melibatkan orang lain.
Pada hari kesembilanbelas Abu Nawas menemukan cara lain yang tidak
termasuk larangan Baginda Raja Harun Al Rasyid. Setelah segala sesuatunya
dipersiapkan, Abu Nawas berangkat menuju ke negerinya sendiri. Perasaan
rindu dan senang menggumpal menjadi satu. Kerinduan yang selama ini
melecut-lecut semakin menggila karena Abu Nawas tahu sudah semakin dekat
dengan kampung halaman.
Mengetahui Abu Nawas bisa pulang kembali, penduduk negeri gembira. Desasdesus
tentang kembalinya Abu Nawas segara menyebar secepat bau semerbak
bunga yang menyerbu hidung.

Kabar kepulangan Abu Nawas juga sampai ke telinga Baginda Harun Al Rasyid.
Baginda juga merasa gembi mendengar berita itu tetapi dengan alasan yang
sama sekali berbeda. Rakyat gembira melihat Abu Nawas pulang kembali,
karena mereka mencintainya. Sedangkan Baginda Raja gembira mendengar Abu
Nawas pulang kembali karena beliau merasa yakin kali ini pasti Abu Nawas
tidak akan bisa mengelak dari hukuman.
Namun Baginda amat kecewa dan merasa terpukul melihat cara Abu Nawas
pulang ke negerinya. Baginda sama sekali tidak pernah membayangkan kalau
Abu Nawas ternyata bergelayut di bawah perut keledai. Sehingga Abu Nawas
terlepas dari sangsi hukuman yang akan dijatuhkan karena memang tidak bisa
dikatakan teiah melanggar larangan Baginda Raja. Karena Abu Nawas tidak
mengendarai keledai.

Senin, 06 Mei 2013

Abu Nawas Pintu Akhirat

Pintu Akhirat


Tidak seperti biasa, hari itu Baginda tiba-tiba ingin menyamar menjadi rakyat
biasa. Beliau ingin menyaksikan kehidupan di luar istana tanpa sepengetahuan
siapa pun agar lebih leluasa bergerak.
Baginda mulai keluar istana dengan pakaian yang amat sederhana layaknya
seperti rakyat jelata. Di sebuah perkampungan beliau melihat beberapa orang
berkumpul. Setelah Baginda mendekat, ternyata seorang ulama sedang
menyampaikan kuliah tentang alam barzah. Tiba-tiba ada seorang yang datang
dan bergabung di situ, la bertanya kepada ulama itu.
"Kami menyaksikan orang kafir pada suatu waktu dan mengintip kuburnya,
tetapi kami tiada mendengar mereka berteriak dan tidak pula melihat
penyiksaan-penyiksaan yang katanya sedang dialaminya. Maka bagaimana cara
membenarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang dilihat mata?" Ulama itu
berpikir sejenak kemudian ia berkata,

"Untuk mengetahui yang demikian itu harus dengan panca indra yang lain.
Ingatkah kamu dengan orang yang sedang tidur? Dia kadangkala bermimpi
dalam tidurnya digigit ular, diganggu dan sebagainya. la juga merasa sakit dan
takut ketika itu bahkan memekik dan keringat bercucuran pada keningnya. la
merasakan hal semacam itu seperti ketika tidak tidur. Sedangkan engkau yang
duduk di dekatnya menyaksikan keadaannya seolah-olah tidak ada apa-apa.
Padahal apa yang dilihat serta dialaminya adalah dikelilirigi ular-ular. Maka jika
masalah mimpi yang remeh saja sudah tidak mampu mata lahir melihatnya,
mungkinkah engkau bisa melihat apa yang terjadi di alam barzah?"
Baginda Raja terkesan dengan penjelasan ulama itu. Baginda masih ikut
mendengarkan kuliah itu. Kini ulama itu melanjutkan kuliahnya tentang alam
akhirat. Dikatakan bahwa di surga tersedia hal-hal yang amat disukai nafsu,
termasuk benda-benda. Salah satu benda-benda itu adalah mahkota yang amat
luar biasa indahnya. Tak ada yang lebih indah dari barang-barang di surga
karena barang-barang itu tercipta dari cahaya. Saking ihdahnya maka satu
mahkota jauh lebih bagus dari dunia dan isinya. Baginda makin terkesan. Beliau
pulang kembali ke istana.
Baginda sudah tidak sabar ingin menguji kemampuan Abu Nawas. Abu Nawas
dipanggil: Setelah menghadap Bagiri
"Aku menginginkan engkau sekarang juga berangkat ke surga kemudian
bawakan aku sebuah mahkota surga yang katanya tercipta dari cahaya itu.
Apakah engkau sanggup Abu Nawas?"
"Sanggup Paduka yang mulia." kata Abu Nawas langsung menyanggupi tugas
yang mustahil dilaksanakan itu. "Tetapi Baginda harus menyanggupi pula satu
sarat yang akan hamba ajukan."

"Sebutkan syarat itu." kata Baginda Raja.
"Hamba morion Baginda menyediakan pintunya agar hamba bisa memasukinya."
"Pintu apa?" tanya Baginda belum mengerti. Pintu alam akhirat." jawab Abu
Nawas.
"Apa itu?" tanya Baginda ingin tahu.
"Kiamat, wahai Paduka yang mulia. Masing-masing alam mempunyai pintu.
Pintu alam dunia adalah liang peranakan ibu. Pintu alam barzah adalah
kematian. Dan pintu alam akhirat adalah kiamat. Surga berada di alam akhirat.
Bila Baginda masih tetap menghendaki hamba mengambilkan sebuah mahkota
di surga, maka dunia harus kiamat teriebih dahulu."
Mendengar penjetasan Abu Nawas Baginda Raja terdiam.
Di sela-sela kebingungan Baginda Raja Harun Al Rasyid, Abu Nawas bertanya
lagi,

"Masihkah Baginda menginginkan mahkota dari surga?" Baginda Raja tidak
menjawab. Beliau diam seribu bahasa, Sejenak kemudian Abu Nawas mohon
diri karena Abu Nawas sudah tahu jawabnya.

Abu nawas lolos dari maut

Lolos Dari Maut




Karena dianggap hampir membunuh Baginda maka Abu Nawas mendapat
celaka. Dengan kekuasaan yang absolut Baginda memerintahkan prajuritprajuritnya
langsung menangkap dan menyeret Abu Nawas untuk dijebloskan ke
penjara.
Waktu itu Abu Nawas sedang bekerja di ladang karena musim tanam kentang
akan tiba. Ketika para prajurit kerajaan tiba, ia sedang mencangkul. Dan tanpa
alasan yang jelas mereka langsung menyeret Abu Nawas sesuai dengan titah
Baginda. Abu Nawas tidak berkutik. Kini ia mendekam di dalam penjara.
Beberapa hari lagi kentang-kentang itu harus ditanam. Sedangkan istrinya tidak
cukup kuat untuk melakukan pencangkulan. Abu Nawas tahu bahwa tetanggatetangganya
tidak akan bersedia membantu istrinya sebab mereka juga sibuk
dengan pekerjaan mereka masing-masing. Tidak ada yang bisa dilakukan di
dalam 'penjara kecuali mencari jalan keluar.
Seperti biasa Abu Nawas tidak bisa tidur dan tidak enak makan. la hanya makan
sedikit. Sudah dua hari ia meringkuk di dalam penjara. Wajahnya murung.
Hari ketiga Abu Nawas memanggil seorang pengawal. "Bisakah aku minta tolong
kepadamu?" kata Abu Nawas membuka pembicaraan.
"Apa itu?" kata pengawal itu tanpa gairah.
121
"Aku ingin pinjam pensil dan selembar kertas. Aku ingin menulis surat untuk
istriku. Aku harus menyampaikan sebuah rahasia penting yang hanya boleh
diketahui oleh istriku saja."
Pengawal itu berpikir sejenak lalu pergi meninggalkan Abu Nawas.
Ternyata pengawal itu merighadap Baginda Raja untuk melapor.
Mendengar laporan dari pengawal, Baginda segera menyediakan apa yang
diminta Abu Nawas. Dalam hati, Baginda bergumam mungkin kali ini ia bisa
mengalahkan Abu Nawas:
Abu Nawas menulis surat yang berbunyi: "Wahai istriku, janganlah engkau
sekali-kali menggali ladang kita karena aku menyembunyikan harta karun dan
senjata di situ. Dan tolong jangan bercerita kepada siapa pun."
Tentu saja surat itu dibaca oleh Baginda karena beliau ingin tahu apa
sebenarnya rahasia Abu Nawas. Setelah membaca surat itu Baginda merasa
puas dan langsung memerintahkan beberapa pekerja istana untuk menggali
ladang Abu Nawas. Dengan peralatan yarig dibutuhkan mereka berangkat dan
langsung menggali ladang Abu Nawas. Istri Abu Nawas merasa heran.
Mungkinkah suaminya minta tolong pada mereka?

Pertanyaan itu tidak terjawab karena mereka kembali ke istana tanpa pamit.
Mereka hanya menyerahkan surat Abu Nawas kepadanya.
Lima hari kemudian Abu Nawas menerima surat dari istrinya. Surat itu
berbunyi: "Mungkin suratmu dibaca sebelum diserahkan kepadaku. Karena
beberapa pekerja istana datang ke sini dua hari yang lalu, mereka menggali
seluruh ladang kita. Lalu apa yang harus kukerjakan sekarang?"
Rupanya istrinya Abu Nawas belum mengerti muslihat suaminya. Tetapi dengan
bijaksana Abu Nawas membalas: "Sekarang engkau bisa menanam kentang di ladang
tanpa harus menggali, wahai istriku."
Kali ini Baginda tidak bersedia membaca surat Abu Nawas lagi. Bagi.nda makin
mengakui keluarbiasaan akal Abu Nawas. Bahkan di dalam penjara pun Abu
Nawas masih bisa melakukan pencangkulan.
********
Abu Nawas masih mengeram di penjara. Namun begitu Abu Nawas masih bisa
menyelesaikan pekerjaannya dengan memakai tangan orang lain.

Baginda berpikir. Sejenak kemudian beliau segera memerintahkan sipir penjara
untuk membebaskan Abu Nawas. Baginda Raja tidak ingin menanggung resiko
yang lebih buruk. Karena akal Abu Nawas tidak bisa ditebak. Bahkan di dalam
penjara pun Abu Nawas masih sanggup menyusahkan prang. Keputusan yang
dibuat Baginda Raja untuk melepaskan Abu Nawas memang sangat tepat.
Karena bila sampai Abu Nawas bertambah sakit hati maka tidak mustahil
kesusahan yang akan ditimbulkan akan semakin gawat.
Kini hidung Abu Nawas sudah bisa menghisap udara kebebasan di luar. Istri Abu
Nawas menyambut gembira kedatangan suami yang selama ini sangat
dirindukan. Abu Nawas juga riang. Apalagi melihat tanaman kentangnya akan
membuahkan hasil yang bisa dipetik dalam waktu dekat.
Abu Nawas memang girang bukan kepalang tetapi ia juga merasa gundah.
Bagaimana Abu Nawas tidak merasa gundah gulana sebab Baginda sudah tidak
lagi memakai perangkap untuk memenjarakan dirinya. Tetapi Baginda Raja
langsung memenjarakannya. Maka tidak mustahil bila suatu ketika nanti
Baginda langsung menjatuhkan hukuman pancung. Abu Nawas yakin bahwa saat
ini Baginda pasti sedang merencanakan sesuatu. Abu Nawas menyiapkan payung
untuk menyambut hujan yang akan diciptakan Baginda Raja. Pada hari itu Abu
Nawas mengumumkan dirinya sebagai ahli nujum atau tukang ramal nasib.
Sejak membuka praktek ramal-meramal nasib, Abu Nawas sering mendapat
panggilan dari orang-orang terkenal. Kini Abu Nawas tidak saja dikenal sebagai
orang yang hartdal daiam menciptakan gelak tawa tetapi juga sebagai ahli
ramal yang jitu.

Mendengar Abu Nawas mendadak menjadi ahli ramal maka Baginda Raja Harun
Al Rasyid merasa khawatir. Baginda curiga jangan-jangan Abu Nawas bisa membahayakan
kerajaan. Maka tanpa pikir panjang Abu Nawas ditangkap.
Abu Nawas sejak semula yakin Baginda Raja kali ini berniat akan menghabisi
riwayatnya. Tetapi Abu Nawas tidak begitu merasa gentar. Mungkin Abu Nawas
sudah mempersiapkan tameng.
Setelah beberapa hari meringkuk di dalam penjara, Abu Nawas digiring menuju
tempat kematian. Tukang penggal kepala sudah menunggu dengan pedang yang
baru diasah. Abu Nawas menghampiri tempat penjagalan dengan amat tenang.
Baginda merasa kagum terhadap ketegaran Abu Nawas. Tetapi Baginda juga
bertanya-tanya dalam hati mengapa Abu Nawas begitu tabah menghadapi
detik-detik terakhir hidupnya. Ketika algojo sudah siap mengayunkan pedang,
Abu Nawas tertawa-tawa sehingga Baginda menangguhkan pemancungan.
Beliau bertanya, "Hai Abu Nawas, apakah engkau tidak merasa ngeri
menghadapi pedang algojo?"
"Ngeri Tuanku yang mulia, tetapi hamba juga merasa gembira." jawab Abu
Nawas sambil tersenyum.
"Engkau merasa gembira?" tanya Baginda kaget.

"Betul Baginda yang mulia, karena tepat tiga hari setelah kematian hamba,
maka Baginda pun akan mangkat menyusul hamba ke Hang lahat, karena hamba
tidak bersalah sedikit pun." kata Abu Nawas tetap tenang.
Baginda gemetar mendengar ucapan Abu Nawas. dan tentu saja hukuman
pancung dibatalkan.
Abu Nawas digiring kembali ke penjara. Baginda memerintahkan agar Abu
Nawas diperlakukan istimewa. Malah Baginda memerintahkan supaya Abu
Nawas disuguhi hidangan yang enak-enak. Tetapi Abu Nawas tetap tidak kerasa
tinggal di penjara. Abu Nawas berpesan dan setengah mengancam kepada
penjaga penjara bahwa bila ia terus-menerus mendekam dalam penjara ia bisa
jatuh sakit atau meninggal Baginda Raja terpaksa membebaskan Abu Nawas
setelah mendengar penuturan penjaga penjara.
*****
Cita-cita atau obsesi menghukum Abu Nawas sebenarnya masih bergolak,
namun Baginda merasa kehabisan akal untuk menjebak Abu Nawas.
Seorang penasihat kerajaan kepercayaan Baginda Raja menyarankan agar
Baginda memanggil seorang ilmuwan-ulama yang berilmu tinggi untuk
menandingi Abu Nawas. Pasti masih ada peluang untuk mencari kelemahan Abu
Nawas. Menjebak pencuri harus dengan pencuri.Dan ulama dengan ulama.
Baginda menerima usul yang cemerlang itu dengan hati bulat.

Setelah ulama yang berilmu tinggi berhasil ditemukan, Baginda Raja
menanyakan cara terbaik menjerat Abu Nawas. Ulama itu memberi tahu caracara
yang paling jitu kepada Baginda Raja. Baginda Raja manggut-manggut
setuju. Wajah Baginda tidak lagi murung. Apalagi ulama itu menegaskan bahwa
ramalan Abu Nawas tentang takdir kematian Baginda Raja sama sekali tidak
mempunyai dasar yang kuat. Tiada seorang pun manusia yang tahu kapan dan
di bumi mana ia akan mati apalagi tentang ajal orang lain.
Ulama andalan Baginda Raja mulai mengadakan persiapan seperlunya untuk
memberikan pukulan fatal bagi Abu Nawas. Siasat pun dijalankan sesuai
rencana. Abu Nawas terjerembab ke lubang siasat sang ulama. Abu Nawas
melakukan kesalahan yang bisa menghantarnya ke tiang gantungan atau tempat
pemancungan.
Benarlah peribahasa yang berbunyi sepandai-pandai tupai melompat pasti suatu
saat akan terpeleset. Kini, Abu Nawas benar-benar mati kutu. Sebentar lagi ia
akan dihukum mati karena jebakan sang ilmuwan-ulama.
Benarkah Abu Nawas sudah keok?
Kita lihat saja nanti.

Banyak orang yang merasa simpati atas nasib Abu Nawas, terutama orang-orang
miskin dan tertindas yang pernah ditolongnya. Namun derai air mata para
pecinta dan pengagum Abu Nawas tak akan mampu menghentikan hukuman
mati yang akan dijatuhkan.
Baginda Raja Harun Al Rasyid benar-benar menikmati kernenangannya. Belum
pernah Baginda terlihat seriang sekarang.
Keyakinan orang banyak bertambah mantap. Hanya sat orang yang tetap tidak
yakin bahwa hidup Abu Nawas aka berakhir setragis itu, yaitu istri Abu Nawas.
Bukankah Alia Azza Wa Jalla lebih dekat daripada urat leher. Tidak ada yang
tidak mungkin bagi Allah Yang Maha Gagah. Dan kematian adalah mutlak
urusan-Nya. Semakin dekat hukuman mati bagi Abu Nawas. Orang banyak
semakin resah. Tetapi bagi Abu Nawas malah sebaliknya. Semakin dekat
hukuman bagi dirinya, semakin tegar hatinya.
Baginda Raja tahu bahwa ketenangan yang ditampilkan Abu Nawas hanyalah
merupakan bagian dari tipu dayanya. Tetapi Baginda Raja telah bersumpah
pada diri sendiri bahwa beliau tidak akan terkecoh untuk kedua kalinya.
Sebaliknya Abu Nawas juga yakin, selama nyawa masih melekat maka harapan
akan terus menyertainya. Tuhan tidak mungkin menciptakan alam semesta ini
tanpa ditaburi harapan-harapan yang menjanjikan. Bahkan dalam keadaan yang
bagaimanapun gawatnya.
Keyakinan seperti inilah yang tidak dimiliki oleh Baginda Raja dan ulama itu.
Seketika suasana menjadi hening, sewaktu Bagin Raja memberi sambutan
singkattentang akan dilaksanakan hukuman mati atas diri terpidana mati Abu

Nawas. Kemudian tanpa memperpanjang waktu lagi Baginda Raja menanyakan
permintaan terakhir Abu Nawas. Dan pertanyaan inilah yang paling dinantinantikan
Abu Nawas.
"Adakah permintaan yang terakhir"
"Ada Paduka yang mulia." jawab Abu Nawas singkat.
"Sebutkan." kata Baginda.
"Sudilah kiranya hamba diperkenankan memilih hukuman mati yang hamba
anggap cocok wahai Baginda yang mulia." pinta Abu Nawas.
"Baiklah." kata Baginda menyetujui permintaan Abu Nawas..
"Paduka yang mulia, yang hamba pinta adalah bila pilihan hamba benar hamba
bersedia dihukum pancung, tetapi jika pilihan hamba dianggap salah maka
hamba dihukum gantung saja." kata Abu Nawas memohon.
"Engkau memang orang yang aneh. Dalam saat-saat yang amat genting pun
engkau masih sempat bersenda gurau. Tetapi ketahuilah bagiku segala tipu

muslihatmu hari ini tak akan bisa membawamu kemana-mana." kata Baginda
sambil tertawa.
"Hamba tidak bersenda gurau Paduka yang mulia." kata Abu Nawas bersungguhsungguh.
Baginda makin terpingkal-pingkal. Belum selesai Baginda Raja tertawa-tawa,
Abu Nawas berteriak dengan nyaring.
"Hamba minta dihukum pancung!"
Semua yang hadir kaget. Orang banyak belum mengerti mengapa Abu Nawas
membuat keputusan begitu. Tetapi kecerdasan otak Baginda Raja menangkap
sesuatu yang lain. Sehingga tawa Baginda yang semula berderai-derai
mendadak terhenti. Kening Baginda berkenyit mendengar ucapan Abu Nawas.
Baginda Raja tidak berani menarik kata-katanya karena disaksikan oleh ribuan
rakyatnya.
Beliau sudah terlanjur mengabulkan Abu Nawas menentukan hukuman mati
yang paling cocok untuk dirinya.

Kini kesempatan Abu Nawas membela diri.
"Baginda yang mulia, hamba tadi mengatakan bahwa hamba akan dihukum
pancung. Kalau pilihan hamba benar maka hamba dihukum gantung. Tetapi di
manakah letak kesalahan pilihan hamba sehingga hamba hams dihukum
gantung. Padahal hamba telah memilih hukuman pancung?"
Olah kata Abu Nawas memaksa Baginda Raja dan ulama itu tercengang. Benarbenar
luar biasa otak Abu Nawas ini. Rasanya tidak ada lagi manusia pintar
selain Abu Nawas di negeri Baghdad ini.
"Abu Nawas aku mengampunimu, tapi sekarang jawablah pertanyaanku ini.
Berapa banyakkah bintang di langit?"
"Oh, gampang sekali Tuanku."
"Iya, tapi berapa, seratus juta, seratus milyar?" tanya Baginda.
"Bukan Tuanku, cuma sebanyak pasir di pantai."

"Kau ini.... bagaimana bisa orang menghitung pasir di pantai?"
"Bagaimana pula orang bisa menghitung bintang di langit?"
"Ha ha ha ha ha...! Kau memang penggeli hati.
Kau adalah pelipur laraku. Abu Nawas mulai sekarang jangan segan-segan,
sering-seringlah datang ke istanaku. Aku ingin selalu mendengar leluconleluconmu
yang baru!"
"Siap Baginda !"


oo000oo

Rabu, 01 Mei 2013

Mengecoh Monyet



Mengecoh Monyet


Abu Nawas sedang berjalan-jalan santai. Ada kerumunan masa. Abu Nawas
bertanya kepada seorang kawan yang kebetulan berjumpa di tengah jalan.
"Ada kerumunan apa di sana?" tanya Abu Nawas.
"Pertunjukkan keliling yang melibatkan monyet ajaib."
"Apa maksudmu dengan monyet ajaib?" kata Abu Nawas ingin tahu.
"Monyet yang bisa mengerti bahasa manusia, dan yang lebih menakjubkan
adalah monyet itu hanya mau tunduk kepada pemiliknya saja." kata kawan Abu
Nawas menambahkan.
Abu Nawas makin tertarik. la tidak tahan untuk menyaksikan kecerdikan dan
keajaiban binatang raksasa itu.
Kini Abu Nawas sudah berada di tengah kerumunan para penonton. Karena
begitu banyak penonton yang menyaksikan pertunjukkan itu, sang pemilik
monyet dengan bangga menawarkan hadiah yang cukup besar bagi siapa saja
yang sanggup membuat monyet itu mengangguk-angguk.
Tidak heran bila banyak diantara para penonton mencoba maju satu persatu.
Mereka berupaya dengan beragam cara untuk membuat monyet itu
mengangguk-angguk, tetapi sia-sia. Monyet itu tetap menggeleng-gelengkan
kepala.
Melihat kegigihan monyet itu Abu Nawas semakin penasaran. Hingga ia maju
untuk mencoba. Setelah berhadapan dengan binatang itu Abu Nawas bertanya,
"Tahukah engkau siapa aku?" Monyet itu menggeleng.
"Apakah engkau tidak takut kepadaku?" tanya Abu Nawas lagi. Namun monyet
itu tetap menggeleng.
"Apakah engkau takut kepada tuanmu?" tanya Abu Nawas memancing. Monyet
itu mulai ragu.
"Bila engkau tetap diam maka akan aku laporkan kepada tuanmu." lanjut Abu
Nawas mulai mengancam. Akhirnya monyet itu terpaksa mengangguk-angguk.
Atas keberhasilan Abu Nawas membuat monyet itu mengangguk-angguk maka ia
mendapat hadiah berupa uang yang banyak. Bukan main marah pemilik monyet
itu hingga ia memukuli binatang yang malang itu. Pemilik monyet itu malu
bukan kepalang. Hari berikutnya ia ingin menebus kekalahannya. Kali ini ia
melatih monyetnya mengangguk-angguk.
Bahkan ia mengancam akan menghukum berat monyetnya bila sampai bisa
dipancing penonton mengangguk-angguk terutama oleh Abu Nawas. Tak peduli
apapun pertanyaan yang diajukan.
Saat-saat yang dinantikan tiba. Kini para penonton yang ingin mencoba, harus
sanggup membuat monyet itu menggeleng-gelengkan kepala. Maka seperti hari
sebelumnya, banyak para penonton tidak sanggup memaksa monyet itu
menggeleng-gelengkan kepala. Setelah tidak ada lagi yang ingin mencobanya,
Abu Nawas maju. la mengulang pertanyaan yang sama.
"Tahukah engkau siapa daku?" Monyet itu mengangguk.
"Apakah engkau tidak takut kepadaku?" Monyet itu tetap mengangguk.
"Apakah engkau tidak takut kepada tuanmu?" pancing Abu Nawas. Monyet itu
tetap mengangguk karena binatang itu lebih takut terhadap ancaman tuannya
daripada Abu Nawas.
Akhirnya Abu Nawas mengeluarkan bungkusan kecil berisi balsam panas.
"Tahukah engkau apa guna balsam ini?" Monyet itu tetap mengangguk .
"Baiklah, bolehkah kugosokselangkangmu dengan balsam?" Monyet itu
mengangguk.
Lalu Abu Nawas menggosok selangkang binatang itu. Tentu saja monyet itu
merasa agak kepanasan dan mulai-panik.
Kemudian Abu Nawas mengeluarkan bungkusan yang cukup besar. Bungkusan
itu juga berisi balsam.
"Maukah engkau bila balsam ini kuhabiskan untuk menggosok selangkangmu?"
Abu Nawas mulai mengancam. Monyet itu mulai ketakutan. Dan rupanya ia lupa
ancaman tuannya sehingga ia terpaksa menggeleng-gelengkan kepala sambil
mundur beberapa langkah.
Abu Nawas dengan kecerdikan dan akalnya yang licin mampu memenangkan
sayembara meruntuhkan kegigihan monyet yang dianggap cerdik.
Ah, jangankan seekor monyet, manusia paling pandai saja bisa dikecoh Abu


Nawas!
oo000oo

Membalas Perbuatan Raja



Membalas Perbuatan Raja



Abu Nawas hanya tertunduk sedih mendengarkan penuturan istrinya. Tadi pagi
beberapa pekerja kerajaan atas titan langsung Baginda Raja membongkar
rumah dan terus menggali tanpa bisa dicegah. Kata mereka tadi malam Baginda
bermimpi bahwa di bawah rumah Abu Nawas terpendam emas dan permata
yang tak ternilai harganya. Tetapi setelah mereka terus menggali ternyata
emas dan permata itu tidak ditemukan. Dan Baginda juga tidak meminta maaf
kepada Abu Nawas. Apabila mengganti kerugian. inilah yang membuat Abu
Nawas memendam dendam.
Lama Abu Nawas memeras otak, namun belum juga ia menemukan muslihat
untuk membalas Baginda. Makanan yang dihidangkan oleh istrinya tidak
dimakan karena nafsu makannya lenyap. Malam pun tiba, namun Abu Nawas
tetap tidak beranjak. Keesokan hari Abu Nawas melihat lalat-lalat mulai
menyerbu makanan Abu Nawas yang sudah basi. la tiba-tiba tertawa riang.
"Tolong ambilkan kain penutup untuk makananku dan sebatang besi." Abu
Nawas berkata kepada istrinya.
"Untuk apa?" tanya istrinya heran.
"Membalas Baginda Raja." kata Abu Nawas singkat. Dengan muka berseri-seri
Abu Nawas berangkat menuju istana. Setiba di istana Abu Nawas membungkuk
hormat dan berkata,
"Ampun Tuanku, hamba menghadap Tuanku Baginda hanya untuk mengadukan
perlakuan tamu-tamu yang tidak diundang. Mereka memasuki rumah hamba
tanpa ijin dari hamba dan berani memakan makanan hamba."
"Siapakah tamu-tamu yang tidak diundang itu wahai Abu Nawas?" sergap
Baginda kasar.
"Lalat-lalat ini, Tuanku." kata Abu Nawas sambil membuka penutup piringnya.
"Kepada siapa lagi kalau bukan kepada Baginda junjungan hamba, hamba mengadukan
perlakuan yang tidak adil ini."
"Lalu keadilan yang bagaimana yang engkau inginkan dariku?"
"Hamba hanya menginginkan ijin tertulis dari Baginda sendiri agar hamba bisa
dengan leluasa menghukum lalat-lalat itu." Baginda Raja tidak bisa
mengelakkan diri menotak permintaan Abu Nawas karena pada saat itu para
menteri sedang berkumpul di istana. Maka dengan terpaksa Baginda membuat
surat ijin yang isinya memperkenankan Abu Nawas memukul lalat-lalat itu di
manapun mereka hinggap.
Tanpa menunggu perintah Abu Nawas mulai mengusir lalat-lalat di piringnya
hingga mereka terbang dan hinggap di sana sini. Dengan tongkat besi yang
sudah sejak tadi dibawanya dari rumah, Abu Nawas mulai mengejar dan
memukuli lalat-lalat itu. Ada yang hinggap di kaca.
Abu Nawas dengan leluasa memukul kaca itu hingga hancur, kemudian vas
bunga yang indah, kemudian giliran patung hias sehingga sebagian dari istana
dan perabotannya remuk diterjang tongkat besi Abu Nawas. Bahkan Abu Nawas
tidak merasa malu memukul lalat yang kebetulan hinggap di tempayan Baginda
Raja.
Baginda Raja tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menyadari kekeliruan yang
telah dilakukan terhadap Abu Nawas dan keluarganya. Dan setelah merasa
puas, Abu Nawas mohon diri. Barang-barang kesayangan Baginda banyak yang
hancur. Bukan hanya itu saja, Baginda juga menanggung rasa malu. Kini ia
sadar betapa kelirunya berbuat semena-mena kepada Abu Nawas. Abu Nawas
yang nampak lucu dan sering menyenangkan orang itu ternyata bisa berubah
menjadi garang dan ganas serta mampu membalas dendam terhadap orang
yang mengusiknya.
Abu Nawas pulang dengan perasaan lega. Istrinya pasti sedang menunggu di
rumah untuk mendengarkan cerita apa yang dibawa dari istana.


oo000oo

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More